Masih segar dalam ingatan Basrizal, suatu hari sepulang dari sekolah, ia tak menemukan sebutir pun nasi di meja makannya. Sang Mamak yang kasihan melihat begitu laparnya dia, kemudian berinisiatif meminjam beras ke tetangga yang masih terbilang saudaranya. Namun tanpa disangka-sangka, sang tetangga menolak mentah-mentah permintaan Mamaknya sambil berkata ketus: “Kasih makan batu saja anak kau!”.
Mendengar kata-kata tersebut, tentu saja Basrizal merasa sedih dan kecewa. Tapi itu dahulu, ketika ia masih seorang bocah kecil yang mungkin berpikiran pendek. Saat ini ketika menjadi seorang yang sangat terkenal dan sukses, ia menyatakan, “Saya selalu doakan dia karena saya tahu dia juga orang miskin seperti kami saat itu,” ungkap laki-laki Minang kelahiran Pariaman 47 tahun silam itu.
Bisnis Basrizal dimulai sejak usia 12 tahun. Dengan tekad hidup mandiri, suatu hari dirinya yang saat itu masih duduk di kelas 5 SD, bersujud memohon restu sang mamak untuk pergi merantau ke Pekan Baru. Dengan berat hati dan diiringi linangan air mata sang bunda, Basrizal pun meninggalkan segala kenangan masa kecilnya di desa tercinta.
”Waktu itu saya berprinsip, saya baru akan pulang kampung dan menjemput keluarga saya jika sudah bisa mendapatkan seliter beras,” ungkap penikmat setia masakan sambal balado yang selalu bergaya serius tapi santai itu.
Hari-hari Basrizal di tanah rantau dihiasi dengan mengerjakan apa saja, termasuk menjajakan pisang goreng di jalanan. Hidup bagi Basrizal adalah pertempuran demi pertempuran untuk melawan rasa malas dan rasa gengsi yang membuncah.
“Saya selalu mengilustrasikan diri saya sebagai seorang Thariq bin Ziyad yang membakar semua kapal pasukannya untuk menjemput syahid. Jujur saja saya mengadopsi sikap seperti. Saya ingin dan harus membangkitkan batang terendam karena selama ini orang selalu mengecilkan peran kami sebagai keturunan orang miskin,” katanya penuh semangat.
Rupanya Tuhan “terkesan” pada tekadnya. Puluhan tahun setelah ia menginjakkan kakinya di ranah Serampang 12, orang-orang mulai mengenalnya sebagai pengusaha sukses yang merajai berbagai bidang mulai sarana angkutan hingga bisnis media. Apa yang sebenarnya menjadi modal utamanya? “Berlaku jujur dan bersikap mandiri. Insya Allah, dengan itu hidup kita diberkahi Tuhan,” katanya.
Sikap itu mempercepat kecocokannya dengan materi-materi yang disampaikan di ESQ. Apa yang dia alami saat mengikuti training ESQ, menurut dia, sepertinya tidak jauh dari falsafah Minangkabau: duduk sama rendah berdiri sama tinggi, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. “Bahkan saking merasa cocoknya dengan ESQ, Anda lihat sendiri, di seluruh perusahaan yang saya pegang berlaku tujuh nilai dasar MCB Group, yang sama dengan tujuh nilai dasar ESQ,“ tutur pimpinan komunitas orang Minang di Riau itu dalam nada bangga.
Namun, jauh di balik suksesnya saat ini, ada hal yang selalu menjadikannya lebih merasa bangga dan terharu, yakni kenangan akan pengorbanan dan rasa kasih sayang sang bunda. Ia sangat sadar, tanpa jasa ibunya tak mungkin orang mengenal Basrizal Koto seperti saat ini. “Dalam kemiskinan, dia bisa membesarkan saya. Sungguh ini sangat luar biasa,” ungkapnya dalam nada rasa haru yang mendalam. Rasa cintanya yang mendalam itu juga yang membuat suami Hj. Mukhniarti itu tidak berani sedikit pun membantah kata-kata sang bunda hingga detik ini.
Ada satu hal lagi yang menjadi ciri Basrizal Koto, yakni sikap ramah tamahnya kepada setiap orang. Kepada siapa pun yang ingin bertemu dengannya, ia selalu berusaha menyempatkan diri untuk memenuhinya. Pantang bagi dia untuk menolak orang yang mau bersilaturahmi. “Oleh karena itu, hp dan telepon saya, stand by 24 jam,” katanya sungguh-sungguh.
Silaturahmi, bagi Basrizal, adalah sebuah kenikmatan yang tiada terperi. Tuhan sudah menganugerahkan kenikmatan yang panjang bagi dia dan seluruh keluarganya. Jadi tidak ada salahnya bila ia kemudian ingin membagi juga kenikmatan tersebut kepada orang lain. Dan itu merupakan salah satu bentuk kebahagian itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar